Friday, November 5, 2010

Dua Hari Merapi Meletus Tiada Henti

Gunung Merapi sudah dua hari ini sejak Rabu (3/11) hingga Jumat (5/11) meletus dengan menyemburkan awan panas. Akibat semburan itu, hingga pukul 10.00 WIB tercatat 48 orang meninggal dan 66 lainnya luka-luka bakar. “Awan panas meluncur tanpa hambatan, kata R Sukhyar, Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Yogyakarta, Jumat (5/11).

Berdasarkan data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mulai pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, semua pos pengamatan melaporkan suara gemuruh dapat terdengar dari jarak 30 kilometer dari puncak. Juga terjadi hujan abu pada radius 30 kilometer dan hujan pasir di radius 15 kilometer.

Kalau pada awal-awal erupsi sejak 26 Oktober 2010 masih bisa dihitung guguran, gempa vulkanik, gempa multiphase dan luncuran awan panas, maka saat ini sudah tidak bisa dihitung berapa kali aktivitas itu terjadi di Merapi. Semua hanya ditulis rentetan.

Jarum pada seismograph di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) awalnya berskala 50: 1, saat ini diubah menjadi 200: 1. Sebab jarum sering over scale atau melebihi rentang rekam.

Diperkirakan material yang disemburkan Gunung sangat aktif tersebut sebanyak 100 juta meter kubik yang mengarah ke segala penjuru mata angin. “Dengan memperhatikan aktivitas yang semakin tinggi, satusnya masih awas level 4, maka kawasan rawan bencana diperluas dari 15 kilometer menjadi 20 kilometer,” kata Sukhyar.Sukhyar menyatakan, warga yang berada di bantaran sungai yang jauh dari Merapi seperti di Kota Yogyajarta juga harus waspada. Karena banjir lahar dingin juga bisa membahayakan warga yang berada di bantaran sungai. ”Jangan sampai yang diurusi hanya pengungsi, tetapi warga yang berada di bawah yang juga mendapatkan efek lupa diingatkan,” kata dia.

Rekomendasi BPPTK adalah agar dilakukan penyelidikan abu gunung yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Bandara Adi Sucipto. Segera memindahkan semua warga yang barada di radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Menurut Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, aktivitas di sepanjang sungai yang berhulu di Merapi harus dihentikan. Yaitu meliputi Kali Woro, Kali Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Truising dan Kali Apu.
sumber : http://www.tempointeraktif.com

No comments:

Post a Comment

Betsy's Page

Shown With Style and Beauty

Automotive Information

workwrite